Sejarah

Sejarah

Sejarah Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular

Gagasan didirikannya Departemen Kardiologi di Indonesia diprakarsai oleh Prof. Dr. dr. S.M. Zainal, Sp.PD yang pada tahun 1950-an menjabat sebagai Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo. Beliau memiliki gagasan untuk mendirikan suatu Lembaga Kardiologi disertai Bedah Thoraks dan Kardiovaskular karena melihat tingginya angka penyakit hipertensi, penyakit jantung dan komplikasi kardiovaskuler karena penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia. Prof. Zainal kemudian mengajukan permohonan kepada Kementrian Kesehatan untuk mendirikan suatu lembaga kardiologi di Surabaya.

Permohonan disetujui dan izin pendirian Lembaga Kardiologi dari Departemen Kesehatan keluar pada 30 Juni 1955 dengan No. 53329/UP/Kab. Lembaga Kardiologi yang pertama akhirnya didirikan di Surabaya di bawah pimpinan Prof. Zainal. Untuk sementara Lembaga Kardiologi ditempatkan di beberapa ruangan-ruangan “kosong” di RSUP lama di Simpang Surabaya.

Pada tahun 1957, Prof. Zainal dibantu oleh seorang dokter berkebangsaan Indonesia yang telah menempuh pendidikan kardiologi di Belanda, bernama dr. Tedjasukmana dalam menjalankan Lembaga Kardiologi di Surabaya. Ia menjadi dokter kardiolog pertama di Indonesia. Selain dr. Tedjasukmana, terdapat pula dr. Ranti yang juga telah menyelesaikan pendidikan spesialis anak di Amsterdam. Dr. Ranti sering pula melakukan kateterisasi pada anak bersama dr. Tedjasukmana di Amsterdam. Pada perjalanannya, dr. Ranti juga diminta oleh Departemen Kesehatan untuk mendirikan Departemen Kardiologi di RSUP Jakarta. Dengan demikian ada dua pusat Kardiologi di Indonesia, yaitu Jakarta dan satu di Surabaya.

Setelah wafatnya Prof. Zainal pada tanggal 18 Oktober 1960, Departemen Kesehatan memutuskan untuk melebur Lembaga Kardiologi ke dalam RSUP Surabaya, menjadikan bagian Kardiologi seperti bagian-bagian yang lain, dengan tugas yang sama, perawwatan pendidikan dan konsultasi dari bagian-bagian lain.

Oleh Fakultas Kedokteran, dr. The Soey Liang (dr. Tedjasukmana) diminta bantuan mengajar mahasiswa dan para dokter dalam pendidikan spesialisasi, mula-mula sebagai Lektor, kemudian sebagai Lektor Kepala luar biasa, oleh karena beliau dipinjam dari Departemen Kesehatan. Pada mulanya semua itu dilakukan oleh satu orang, dr. The Soey Liang (dr. Tedjasukmana) sendiri, lambat laun baru ada dokter-dokter lain yang membantu. Setelah semua berjalan lancar seperti yang diharapkan, dr. The Soey Liang (dr. Tedjasukmana) mulai membangun Laboratorium Catheterisasi Jantung dan Angio Cardiography. Untungnya dr. The Soey Liang (dr. Tedjasukmana) dapat bantuan seorang Internist dr. Kwee Gwan Kiet yang mau bekerja secara serabutan membangun segala kebutuhan untuk kateterisasi, yang sulit sekali karena banyak yang tidak ada atau kurang lengkap dan harus membuat sendiri.

Dalam rangka hubungan kerja sama antara Unair dan Universitas di California ada banyak dokter-dokter yang dikirim ke sana. Sekembalinya mereka dari USA ada beberapa dokter yang bisa membantu bagian Kardiologi: dr. Mariani ditempatkan di Poli Jantung, dr. Saleh di ruangan dan dor. Prasodo di bagian anak-anak. Salah satu Kardiologist senior, Dr. Sunoto Pratanu mengkhususkan diri mempelajari bidang-bidang EKG, aritmia, pacemaker, emergency, dan segala yang diperlukan di ICU.

Sebagai bantuan tenaga ahli dari Universitas California telah datang Prof. Dr. Mc. Kain, seorang Thorax Surgeon ke Bagian Bedah RSUP. Operasi jantung pertama di RS Dr. Soetomo dilakukan pada seorang dengan mitral stenosis pada tanggal 2 Agustus 1962. Satu prestasi bahwa di Surabaya pun sudah bisa dilakukan operasi jantung.

Macam-macam kebutuhan perlangkapan Kardiologi telah diusahakan antara lain untuk kateterisasi dan angiografi yang modern dan pengiriman satu tim terdiri dari dr. Pramonohadi (cardiolog), dr. Liem Bing Hwe (thorax surgeon), dr. Siti (anastesi), dr. Soebagio (radiologi) ke Inggris untuk mempelajari bedah jantung yang modern dengan extra corporal circulation. Sekembalinya dari Inggris, bisa mulai dilakukan operasi atrial septal defect dan ventrical septal defect dengan extra corporal circulation.

Juga dibentuk Yayasan Jantung, mencari dana untuk membantu orang-orang miski yang tidak dapat membayar operasi jantung. Dalam yayasan tersebut ikut serta Moh. Noer, Gubernur Jawa Timur, yang juga aktif dalam gerakan olah raga Jantung Sehat.

Tim bedah jantung diperkuat lagi setelah kepulangan dr. Puruhito sebagai thorax surgeon dari Erlangen, Jerman.

Soerabaja Marine Hospitaal

Idzin Depkes No.53329/UP/Kab. "Lembaga Kardiologi"

Simpang Hospitaal

Placed in Simpang Hospitaal, Lembaga Kardiologi Has No Resources

dr. The Soey Liang (Tedjasukmana)

in July 1st 1957: He Became a Cardiologist from Registrasi Commissie Amsterdam and the first Cardiologist in Soerabaja

October 18th 1960, "RUMAH SAKIT UMUM PUSAT"

Lembaga Kardiologi Merged to RSUP Soerabaja